Saya percaya Allah berbicara. Lewat kejadian alam, manusia, juga nuraniku. Ada makna di balik semua pertanda, kalimat, juga keresahan. Semuanya terangkum menjadi sebuah makna yang satu. Tak ada pertentangan di dalamnya.

Namun, terkadang menerima suatu kebenaran itu sulit. Selalu ada yang harus dikorbankan sebagai bentuk kesepakatan terhadap kebenaran itu. Selalu cinta dunia yang harus dikorbankan. Memang sulit, tapi bisa.

Ada banyak kalimat tanya yang berkelebat, berlarian, bertubrukan, mencoba mencari arah yang tepat. Arah di mana jawaban itu berada. Namun, mengapa ketika mereka berdua (tanya dan jawab) saling bertemu, masih ada saja yang tak mau menerima?

Saya sering bertanya mengapa begini, mengapa begitu, bagaimana ini, bagaimana itu. Allah kemudian menjawabnya dengan berbagai cara. Jawaban-Nya tak hanya diberi sekali, selalu ada penjelasan dan penegasan terhadap jawaban itu.

Me-nga-pa-su-lit-pa-da-hal-a-ku-bi-sa? Selalu itu. Ya, selalu itu yang hadir ketika saya sulit untuk menerima suatu kebenaran. Saya mencoba untuk kembali membangun logika yang sering dirubuhkan oleh musuh terbesar saya. Bagaimanapun, musuh terbesar itu adalah diri saya sendiri.

Karena
Kebaikan itu putih
Keburukan itu hitam
Tak ada daerah abu-abu di antaranya
Selalu ada batas yang jelas
Antara kebaikan dan keburukan